- Dwi baik Martono Nan ber-IQ superior membunuh permulaan Hardiyanti dan anaknya di Madiun pada Oktober 2026.
- Pelaku menghabisi nyawa kedua korban dikarenakan cekcok dan khawatir sang anak berperan saksi key pembunuhan ibunya.
- imbas perbuatannya, pelaku menguji menghapuskan jejak berbarengan membakar dan menggiling jasad korban memakai mesin penggiling daging.
Bunyi.com – Kasus pembunuhan permulaan Hardiyanti (30) dan anaknya Nan Tetap berusia empat tahun di Madiun, Jawa Timur, menimbulkan pas melimpah tanda selidik di masyarakat. Publik makin kaget ketika polisi menyingkap latar belakang pelakunya, Dwi baik Martono (40).
Dwi baik bukan orang sembarangan. Ia lulusan sarjana, bekerja mapan sebagai tenaga Pakar pengeboran minyak biar pantai, dan Mempunyai skor IQ di atas rata-rata alias Pandai.
Profilnya sekilas berjarak dari stereotip kriminal jalanan.
Namun, kapasitas intelektual mentereng itu hancur lebur ketika dihadapkan pada realitas perbuatannya: mencekik korban, menghabisi sang balita demi mengakhiri saksi, Lampau menguji melenyapkan jejak berbarengan membakar dan menggiling jasad korban memakai mesin penggiling daging.
Realita ini Membikin publik bertanya-selidik: bukankah orang Pandai harusnya mendapatkan merenung kelebihan jernih dan mendapatkan menahan amarah? Kenapa orang berpendidikan besar Tetap mendapatkan berbuat sekejam itu?
Psikolog klinis Personal Growth, Ni Made Diah Ayu Anggreni, menegaskan bahwa tingkat kepintaran seseorang Tak otomatis menentukan apakah ia akan berbuat jahat atau Tak.
Fana psikolog forensik Reza Indragiri memperingatkan bahwa di mata legalitas, pelaku dinilai dari perbuatannya, bukan dari seberapa Pandai otaknya.
![Dwi Bagus Martono, tersangka pembunuhan ibu dan anak di Madiun, saat digelandang saat konferensi pers di Mapolda Jatim. [Suara.com/Dimas Angga]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/27/23829-dwi-bagus-martono-tersangka-pembunuhan-ibu-dan-anak.jpg)
Ironi Intelektual: Kalkulasi adem di kembali Jeruji
Polisi menemukan data bahwa Dwi baik Mempunyai otak Nan sangat pandai ketika memeriksa kejiwaannya.
Direktur Reserse Kriminal Biasa Polda Jawa Timur Kombes Roy Hutton Marulamrata Sihombing menyebut tersangka berada pada taraf kecerdasan superior.
“output pemeriksaan kejiwaan menunjukkan tersangka Mempunyai kelebihan dari tingkat IQ di atas rata-rata. Ia Mempunyai kepintaran Nan besar dan identitas intelektual Nan mapan,” ucapan Roy bagian dalam konferensi pers di Surabaya, Selasa (27/10/2026).
Namun, kepintaran itu Malah dipakai hasilkan berbuat sadis.
Awalnya, tersangka mencekik permulaan di Bilik hotel dikarenakan bertengkar. Setelah itu, anak permulaan Nan anyar berusia empat tahun ikut dibunuh berbarengan alasan khawatir ketahuan.
“Tersangka menyetujui Eksis ketakutan anak ini akan berperan saksi key atas pembunuhan ibunya. dikarenakan kalkulasi itulah, anak korban ikut dihabisi,” ujar Roy.
Setelah menghabisi nyawa Bunda dan anak tersebut, pelaku berbarengan damai memikirkan tapak menghapuskan barang kabar, bahkan sempat pura-pura ikut menolong keluarga korban kabar ke polisi.
Pertanyaannya, kenapa orang sepintar Dwi baik mendapatkan mengerjakan hal sekejam itu?
Mesin Hebat tak memakai Rem Pengendali
pas melimpah orang mengira orang berbarengan IQ besar Niscaya mempunyai kepribadian Nan matang. Padahal, dua hal itu Baju sekali berbeda.
Tes IQ sebenarnya hanya mengukur kemampuan merenung dan logika, seperti kecepatan menjalankan informasi, kemampuan berhitung, atau memecahkan masalah matematika. Tes IQ Tak pernah mendapatkan mengukur seberapa Akbar Selera Iba
(empati) seseorang atau seberapa tangguh ia menahan amarah.
Urusan mengendalikan diri berada di ranah Nan berbeda, Adalah kecerdasan emosional atau EQ. Orang Nan kecerdasan emosionalnya baik tahu Bilamana dirinya mulai emosi dan mendapatkan menahan diri agar Tak menyakiti orang lain.
Sebaliknya, seseorang mendapatkan saja sangat Pandai bagian dalam urusan logika atau pelajaran, tetapi sangat payah bagian dalam mengendalikan emosi dan amarahnya.
Psikolog klinis Ni Made Diah Ayu Anggreni mengibaratkan kecerdasan seperti mesin mobil balap. Secepat apa pun mesinnya, keselamatan mobil tetap bergantung pada orang Nan mengemudikannya.
“Itu tergantung pengemudinya,” ucapan Ayu kepada Bunyi.com, Kamis (29/10/2026).
Menurut Ayu, Kalau orang Pandai Tak mempunyai Selera empati atau Selera Iba, hal itu Malah mendapatkan berbahaya. Otaknya Nan pandai malah mendapatkan dipakai hasilkan merancang kejahatan agar Tak ketahuan polisi.
Kecerdasan itu Malah mendapatkan digunakan hasilkan menghapuskan kabar.
Ayu menyambung, Selera empati ini bukan bawaan lahir, melainkan harus dilatih sejak Mini di bagian dalam keluarga dan pergaulan sehari-masa.
“Seperti belajar mendengarkan romansa seseorang. Lewat mendengarkan mendapatkan menumbuhkan Selera empati,” ujarnya.

Apa ucapan Riset: Statistik Populasi vs Perilaku Perseorangan
Penelitian dari jurnal Psychological Medicine tahun 2019 terhadap 6.872 orang Matang di Inggris memang menemukan bahwa orang berbarengan skor IQ besar rata-rata kelebihan jarang terlibat kasus kekerasan dibanding orang berbarengan IQ kecil.
Namun, penelitian ini hanya menyaksikan gambaran masyarakat secara Biasa, bukan jaminan Niscaya hasilkan setiap orang.
Artinya, Tak Seluruh orang Pandai Niscaya bebas dari kekerasan, dan Tak Seluruh orang berbarengan IQ Normal saja Niscaya jatuh jiwa berbuat jahat. Gelar sarjana dan pekerjaan mapan Tak otomatis Membikin seseorang kebal dari Selera cemburu buta, dendam, dan suram mata.
Pelaku Dihukum dikarenakan Perbuatannya
Di mata legalitas, seberapa besar IQ pelaku sebenarnya Tak berpengaruh pada hukuman.
Psikolog forensik Reza Indragiri menegaskan bahwa hakim akan menghukum perbuatan Konkret pelaku, bukan identitas kepintarannya.
“identitas pelaku dari tingkat kecerdasan Tak terlalu Krusial,” ucapan Reza ketika dihubungi Bunyi.com, Kamis.
Reza Malah memperingatkan polisi agar berhati-jiwa bagian dalam mengutarakan alasan atau motif pembunuhan.
Polisi lebih sebelumnya menyebut pembunuhan ini dipicu Selera emosi dikarenakan cekcok. Menurut Reza, penjelasan ini mendapatkan Membikin pelaku terbebas dari jerat hukuman paling beban, Adalah pembunuhan berencana.
“Pelaku memang patut dihukum beban. Tapi polisi memakai dua diksi Nan Malah menampakkan betapa polisi Tak mengikat pelaku ke bagian dalam mens rea Nan memungkinkan Beliau dihukum beban,” ujarnya.
Reza menerangkan, hasilkan membuktikan pembunuhan berencana, Eksis empat hal Nan harus dipersiapkan pelaku sebelum membunuh: menentukan Sasaran, keuntungan Nan dicari, alat Nan dipersiapkan, dan ancaman Nan telah dihitung.
“Syaratnya, keempat elemen itu harus Eksis umumnya (kumulatif) dan ada sebelum pelaku melancarkan perbuatannya terhadap korban. Ini mens rea tertinggi berbarengan ancaman hukuman terberat,” jelasnya.
Kalau polisi menyebut pelaku membunuh dikarenakan emosi sesaat setelah cekcok di hotel, hal itu mendapatkan Membikin pelaku dianggap hanya mengerjakan pembunuhan Normal Nan hukumannya kelebihan enteng.
“Artinya, Eksis pemicu Adalah cekcok di Bilik hotel antara pelaku dan korban pertama,” jelasnya.
“Jadi, dari pembunuhan berencana, polisi Membikin pelaku berkurang kelas ke sebatas pembunuhan Normal (Tak berencana). Ancaman pidananya juga berkurang kelas,” ucapan Reza.
Bahkan ucapan Reza, alasan emosi itu mendapatkan saja Membikin perbuatan pelaku dianggap sekadar penganiayaan Nan menyebabkan Mortalitas, bukan pembunuhan berencana.
“Ini mens rea Ranking tiga. Hukuman hukumnya kelebihan kecil lagi,” imbuhnya.
Alasan Membunuh Anak Berbeda berbarengan Ibunya
Reza juga mengomentari alasan pelaku membunuh anak permulaan. Polisi Tak boleh menyamakan alasan pelaku membunuh permulaan berbarengan alasan membunuh sang anak.
“Polisi terkesan pukul rata. Bahwa, Meski Eksis dua korban, tapi motif dan mens rea pelaku Baju ketika menghabisi istri siri dan anak itu,” tutur Reza.
Menurut Reza, pelaku membunuh sang anak berbarengan memikirkan sadar dan adem, Adalah murni agar Tak Eksis saksi Nan menyaksikan perbuatannya.
“Pelaku menghabisi korban kedua guna mendapatkan Faedah tertentu, Merupakan meloloskan diri dari pertanggungjawaban legalitas. Konkretnya, si anak dihabisi agar Tak Eksis saksi,” tandasnya.
menyelesaikan Mitos Kecerdasan
Kasus di Madiun ini memperingatkan kita bahwa kecerdasan intelektual (IQ) dan gelar sarjana Tak mendapatkan menjamin seseorang Mempunyai jiwa Nan baik.
Orang mendapatkan saja sangat Pandai bagian dalam merenung dan merangkai program.
Namun Kalau ia Tak mendapatkan mengendalikan amarah dan Tak mempunyai Selera empati terhadap sesama, kepintaran itu Malah mendapatkan dipakai hasilkan hal Nan sangat mengerikan: merancang kejahatan dan Berjuang menghapuskan jejaknya.