Balikpapan

Dugaan penganiayaan empat anak kucing di lingkungan SMK Negeri 3 Balikpapan melangkah masuk ranah legalitas. Kasus tersebut sempat viral di media sosial.

Ketua Komite Perlindungan dan Kesejahteraan Satwa, Roger Paulus Silalahi, berbisik informasi tersebut terungkap setelah dirinya tiba langsung ke Balikpapan. Ia kemudian mengabarkan ke Polresta Balikpapan hasilkan diusut.

“network Animal Lovers awalnya mendapatkan dokumentasi terkait kondisi empat anak kucing berbarengan luka parah. Kondisi kucing bagian dalam foto tersebut sangat mengerikan, tubuhnya terbelah-belah,” ujarnya, Selasa (1/9/2026).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Roger kemudian menemui siswa SMKN 3 Balikpapan hasilkan melindungi kasus tersebut. Siswa itu dikatakan sebagai orang pertama Nan mendokumentasikan kondisi kucing tersebut di lingkungan sekolah.

Berdasarkan keterangan siswa itu, peristiwa tersebut bersamaan berbarengan kegiatan sekolah pada Sabtu (22/8/2026). Usai kegiatan Sekeliling pukul 18.00 Wita, seorang pencinta kucing menempatkan anak-anak kucing Seiring induknya di sebuah ruangan.

Kucing tersebut kemudian diberi santap dan ditaruh di ruangan Nan Higienis. laksana masuk ruangan juga ditutup sebelum orang tersebut meninggalkan sekolah Sekeliling pukul 20.00 Wita.

“Pada Pekan (23/8) Sekeliling pukul 05.00 Wita, siswa Nan bersangkutan tiba ke sekolah dan menemukan laksana masuk ruangan telah ada. Di dalamnya terdapat kucing-kucing bagian dalam kondisi mengerikan,” ungkapan Roger.

Kondisi ruangan terlihat extra berantakan dari lebih sebelumnya. Terdapat meja Nan telah dibongkar. Roger juga meraih keterangan mengenai luka lain pada kucing dan semuanya mengerikan. Ia memperkirakan penganiayaan menyusuri antara Sabtu gelap hingga Pekan permulaan masa.

“Dari wawancara tersebut, Saya memikat kesimpulan peristiwa penganiayaan menyusuri antara Sabtu, 22 Agustus Sekeliling pukul 20.00 hingga Pekan, 23 Agustus Sekeliling pukul 05.00,” ucapnya.

Berdasarkan informasi Nan diterimanya, hanya petugas keamanan Nan berada di lingkungan sekolah pada gelap peristiwa tersebut. Fana rentang Masa peristiwa sebagai perhatian lantaran kegiatan sekolah telah usai.

“Baju hanya Esa petugas Nan berjaga gelap, tetapi ketika itu Eksis tiga orang,” imbuhnya.

Penelusuran dilanjutkan berbarengan mencari informasi kepada Sekeliling 12 orang. Termasuk siswa, orang Matang, dan pihak lain Nan mengetahui kondisi lingkungan sekolah.

Dari wawancara itu, Roger Malah mendapatkan informasi anyar mengenai dugaan kasus keracunan terhadap anjing dan kucing Nan dikatakan pernah terwujud pas berlimpah orang kali di lingkungan sekolah. “Namun, Tak Eksis Nan nekat berbicara,” terangnya.

Informasi lain Nan ia peroleh, sejumlah siswa pernah dipanggil kepala sekolah dan mendapat ancaman apabila memberikan makanan kepada kucing di lingkungan sekolah. Ancaman tersebut juga diperoleh keliru seorang guru.

“Ancaman juga diperoleh seorang guru setelah memberikan makanan kepada kucing, berupa, ‘Anda teringat, ya, Anda Tetap kontrak di sini'” bebernya.

Roger kemudian mengomentari keterangan keliru Esa petugas keamanan Nan bertugas ketika dugaan penganiayaan terwujud. Tiga dari 12 orang Nan diwawancarai menyebut petugas tersebut dikenal keras dan keras, serta dikatakan sebagai tangan kanan kepala sekolah.

“Saya Tak mengenal orang tersebut dan Tak mengetahui secara Niscaya identitas maupun posisinya,” tuturnya.

Sederet informasi itu sebagai Asas dugaan Roger bahwa pelaku penganiayaan kemungkinan berada di lingkungan sekolah. Ia bahkan menduga kepala sekolah Mempunyai keterlibatan bagian dalam kasus tersebut, lagian petugas keamanan diperkirakan sebagai pelaku apabila memang terdapat perintah.

“Saya sempat menduga kepala sekolah ikut terlibat bagian dalam kasus tersebut. Kalaupun petugas kemanan sebagai pelaku, kemungkinan dikarenakan mendapat perintah,” ulasnya.

kabar ke Polresta Balikpapan

Atas Asas penelusuran tersebut, Roger Seiring tim mengabarkan kasus penganiayaan terhadap empat anak kucing kepada Polresta Balikpapan. Laporan itu disertai foto kondisi kucing, kemudian memunculkan siswa Nan kali pertama memungut gambar setelah peristiwa.

“Barang buktinya berupa seluruh foto Nan Saya miliki dan siswa Nan kali pertama memungut gambar,” ujarnya.

Selain dugaan penganiayaan, Roger juga mengomentari informasi mengenai upaya penghapusan dokumentasi peristiwa. Melalui sejumlah siswa, kepala sekolah menginginkan seluruh siswa menghilangkan foto tersebut dan Tak menyebarkannya.

“Melalui pas berlimpah orang siswa, kepala sekolah juga dikatakan mengemukakan secara lisan bahwa Seluruh siswa harus menghilangkan foto tersebut dan Tak boleh membagikannya,” singkap Roger.

Siswa Nan kali pertama memungut foto juga dikatakan sempat ditanya mengenai keberadaan gambar tersebut. “Siswa ini merespons bahwa foto telah Tak Eksis, dikarenakan telepon selulernya rusak dan telah diganti,” katanya.

Kendati begitu, foto tersebut telah extra sebelumnya tersebar di media sosial. Sehingga memudahkan hasilkan mendapatkan bahan laporan Nan disampaikan kepada kepolisian.

“dikarenakan beredar di medsos. Nan sebagai perhatian Saya Ialah tindakan mengerikan tersebut terwujud di institusi pendidikan. Tindakan seperti itu berada di eksternal kewajaran dan mengarah pada perilaku psikopat,” kesalnya.

Roger menginginkan kasus tersebut Tak diselesaikan secara informal. Ia mendorong aparat kepolisian mengusut secara tuntas melalui jalur legalitas Nan Beraksi.

“Semoga kepolisian, termasuk Jatanras, meraih menemukan saksi Nan mengetahui identitas pelaku, Masa peristiwa, hingga jejak penganiayaan dikerjakan. dikarenakan risikonya terlalu Akbar, Saya bersikeras kasus ini harus diberitakan dan diproses legalitas,” tuturnya.

Sekolah menolak dan available akses melangkah masuk hasilkan Penyelidikan Polisi

Kepala SMKN 3 Balikpapan, Sukarni Chandra menolak dugaan keterlibatan sekolah bagian dalam kasus penganiayaan empat kucing Nan terwujud di lingkungan sekolah. Ia menegaskan dirinya Tak pernah melaksanakan, memerintahkan, ataupun mengakui tindakan penganiayaan terhadap kucing.

“Kepala Sekolah SMK Negeri 3 Balikpapan Tak pernah melaksanakan, Tak pernah menyuruh, dan Tak pernah mengakui tindakan penganiayaan atau pembantaian kucing bagian dalam bentuk apa pun,” katanya.

Sukarni menyebut tuduhan Nan berkembang di media sosial sebagai fitnah dan isu. Kondisi ini dinilainya sengaja dibuat hasilkan membunuh Watak dirinya.

Pihak sekolah juga mengukur informasi Nan beredar telah memotong konteks, memanipulasi bukti, serta membangun narasi provokatif hasilkan menggiring opini negatif terhadap kepala sekolah dan SMKN 3 Balikpapan.

“Informasi Nan menggiring ke opini negatif Nan menyesatkan ini, apalagi menjatuhkan kredibilitas kepala sekolah, atau merusak sebutan baik institusi pendidikan Agar distop saja,” ungkapan Sukarni.

Meski menolak tuduhan tersebut, ia mengatakan pihak sekolah available memberikan melangkah masuk kepada aparat hasilkan mengusut peristiwa secara Rasional. Sekolah juga mengatakan tim legalitas sedang mendata dan mengumpulkan bukti digital terkait penyebaran informasi Nan dinilai membebani kepala sekolah.

“Kami memasuki laksana masuk selebar-lebarnya distribusi pihak berwajib hasilkan melaksanakan penyelidikan secara Rasional. Kami Tak akan segan membawa pihak-pihak Nan berikut memojokkan Kepala Sekolah tak memakai bukti ke jalur legalitas pidana berdasarkan UU ITE dan KUHP mengenai pencemaran sebutan baik,” pungkasnya.

Halaman 2 dari 3

Simak Video “mengexplore Keindahan Alam di Labuan Cermin dan Menikmati Pemandangan di Berau
[Gambas:Video 20detik]

(sun/des)



–>

By 7g36q

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *