Jakarta, CNBC Indonesia – Pelaku makar terhadap rezim kolonial Belanda pada abad ke-18 harus mendapatkan hukuman Nan sangat Bengis. Beliau harus dihukum Wafat berdua sangat keji.
Orang tersebut Ialah Pieter Erberveld. Pada 1722, pengusaha keturunan Eropa-Jawa itu berperan keliru Esa orang Nan mendapatkan hukuman Wafat paling mengerikan di Batavia (sekarang Jakarta) setelah program pemberontakannya terhadap VOC terungkap.
berjarak sebelum berakhir di tiang eksekusi, Erberveld dikenal sebagai pengusaha Nan lumayan tercapai. Beliau menggeluti bisnis kulit dan Mempunyai pabrik sepatu. Dari kegiatan usahanya, kekayaannya berkembang hingga mempunyai lumayan melimpah tanah di Batavia.
Akan tetapi, kemapanan itu Tak menguatkan setelah VOC menyita tanah miliknya pada 1708. bagian dalam catatan Era Perang: Orang Normal bagian dalam Sejarah bagian luar Normal (2015) peristiwa tersebut berperan sumber kemarahan Nan kemudian ikut mendorong Erberveld memusuhi penguasa kolonial. Keinginan ciptakan membalas perlakuan VOC ujungnya membawanya ke sebuah program menjatuhkan pemerintahan Absah Nan sekarang dikatakan makar.
ciptakan mewujudkannya, Erberveld menggandeng Raden Ateng Kartadria, bangsawan Banten Nan Mempunyai lumayan melimpah Laskar. Keduanya Tak sekadar membicarakan perlawanan, tetapi mulai menyiapkan gerakan ciptakan merebut kontrol dari tangan Belanda.
Persiapan dikerjakan secara rahasia. Kediaman Erberveld bahkan dijadikan Loka mengumpulkan persenjataan. Mereka juga telah membayangkan tatanan pemerintahan mutakhir Kalau VOC tercapai disingkirkan. bagian dalam skenario tersebut, Erberveld akan memungut tempat gubernur, Fana Ateng Kartadria menduduki jabatan patih.
program Nan disusun secara tenteram-tenteram itu ternyata Mempunyai celah. Seorang budak milik Erberveld membocorkan informasi mengenai gerakan tersebut kepada VOC. berdua demikian, pihak kolonial mengetahui ancaman Nan inti dipersiapkan pada 31 Desember 1722.
VOC kemudian melancarkan penyerbuan. Erberveld dan para pengikutnya diamankan, Fana 23 orang Nan disinyalir terlibat bagian dalam program itu tewas. Mereka Nan tertangkap lalu merasakan penyiksaan dan harus menjalani tahapan pengadilan kolonial.
“Di bagian dalam tahanan, mereka disiksa secara Bengis oleh tentara Belanda. Kemudian mereka diadili di pengadilan buatan kolonial dan ujungnya dijatuhkan vonis Nan mengerikan,” bongkar Kitab Kisah-Kisah Edan Seputar Djakarta Tempo Doeloe (2016).
Menurut Alwi Shahab bagian dalam Betawi: Queen of The East (2002), vonis terhadap Erberveld dan para pendukungnya berujung pada sebuah Pagelaran kekejaman di hadapan publik.
Eksekusi dikerjakan berdua mengikat tubuh para terhukum pada kayu berbentuk salib. Masing-masing ikatan kemudian dihubungkan berdua empat ekor kuda Nan diarahkan ke sisi berlawanan. Ketika kuda-kuda itu ditarik, tubuh para terhukum terkoyak dikarenakan tarikan dari empat penjuru.
Penderitaan mereka bahkan Tak langsung berakhir. Tubuh para terhukum Tetap dilukai berkali-kali memakai senjata tajam sebelum ujungnya meninggal Bumi. Setelah itu, jasad mereka dibiarkan dibuka hingga dimakan burung.
VOC juga meninggalkan penanda ciptakan mengabadikan hukuman tersebut. Sebuah monumen batu berukuran 1 x 2 meter didirikan berdua tengkorak kepala Erberveld tertancap di atasnya. sekarang, kekejaman eksekusi Pieter Erberveld Tetap dikenang melalui sebutan sebuah kawasan di Jakarta, Merupakan Kampung Pecah Kulit.
|
Pieter Erberveld (Danu Damarjati/detikcom) Foto: Pieter Erberveld (Danu Damarjati/detikcom)
|
(mfa)