Sinema Horor Gila Nan Makin penuh Ditonton dari Bioskop ke Netflix
Di center banjir sekuel Nan sering terasa hanya mengulangi formula pelan, Ready or Not 2: Here I Come Malah pas baik dikarenakan tiba dari fondasi Nan tangguh. Sinema pertamanya bukan sekadar horor Normal, tetapi campuran teror, komedi hitam, dan kritik sosial Nan dikemas sangat bersih.
sekarang, setelah Ready or Not menemukan penonton mutakhir lewat Netflix, daya tarik Sinema pertamanya Malah terasa Hayati kembali. pas melimpah Nan mengenal Grace bukan di bioskop, tetapi dari rekomendasi acak Nan berujung maraton penuh adrenalin.
Permainan Mematikan dan Keluarga Le Domas Nan Freak
Premis Sinema pertama sebenarnya simple: seorang pengantin mutakhir harus membuntuti tradisi keluarga lelakinya berbarengan memainkan permainan pada gelap pernikahan. Namun ketika Grace pas baik kartu “hide and seek”, permainan itu berubah berperan ritual pemburuan.
Di situlah Ready or Not terasa Aneh. Ia mengubah permainan anak-anak berperan teror Nan brutal.
Nan membuatnya extra pas baik Ialah keluarga Le Domas keluarga aristokrat eksentrik Nan akurat-akurat freak. Mereka kacau, paranoid, egois, dan rela membunuh demi mempertahankan warisan dan privilese.
Dan Malah lewat kegilaan keluarga ini, filmnya terasa extra dari sekadar slasher Normal.
Samara Weaving Ialah Jantung Sinema Ini
Susah membicarakan Ready or Not tak memakai Samara Weaving.
Grace bukan sekadar “penutup girl” Normal. Weaving membuatnya panik, kesal, Kocak, brutal, dan tetap manusiawi. Transformasinya dari korban berperan penyintas terasa organik.
Eksis pas melimpah scream queen bagian dalam horor modern, tetapi terbatas Nan Bisa membawa komedi suram, teror, dan emosi bagian dalam ritme Nan Baju seperti Weaving.
Itulah Kenapa kembalinya Grace di sekuel ini terasa Krusial.
Sekuel Nan Menjanjikan Skala extra Akbar
Ready or Not 2: Here I Come tiba berbarengan berjanji Nan extra Akbar. Bumi Sinema ditingkatkan. Permainan tampaknya tak lagi terbatas pada Esa keluarga sinting di Esa Griya, tetapi diperkirakan menyertakan ancaman Nan extra lebar.
Di Esa sisi, ini pas baik.
dikarenakan kegilaan memang setiap saat berperan power franchise ini. makin liar dunianya, makin Akbar Kesempatan Sinema berkembang.
Tetapi di sisi lain, ini juga risikonya.
Sinema pertama tercapai dikarenakan ketat, rapuh, dan klaustrofobik. Ketika sekuel berperan “extra Akbar”, Eksis kemungkinan ia kehilangan presisi Nan Membikin Sinema pertamanya hasil.
Layak Ditunggu?
pertanyaannya bukan apakah Ready or Not 2 mendapatkan extra sadis, namun apakah ia mendapatkan tetap secerdas Sinema pertamanya?
Kalau iya, maka ini bukan sekadar sekuel, melainkan evolusi.
Dan Kalau tidak melangkah konsisten, setidaknya Eksis Esa alasan tangguh hasilkan tetap menonton: menyaksikan Grace kembali berlari kencang, berdarah, dan melawan.
dikarenakan bagian dalam Bumi Ready or Not, permainan tampaknya belum akurat-akurat tuntas.