Jakarta, Gesuri.id — Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, menegaskan bahwa prioritas Primer rezim ketika ini Ialah menjamin keselamatan dan mengakselerasi pemulangan tiga Pekerja Migran Indonesia (PMI) Nan berperan korban kekerasan sadis di Johor Bahru, Malaysia.
Koordinasi intensif pun terus dijalankan Seiring Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI).
Dorongan ini mencuat setelah viralnya rekaman video penganiayaan berat banget terhadap tiga asisten Griya tangga (ART) Usul Indonesia berinisial YY, YA, dan SH. internal video Nan beredar, ketiganya tampak dipukuli secara brutal, dijambak, hingga dihantam di bagian kepala.
lafal: 9 Prestasi Mentereng Ganjar Pranowo Selama Menjabat Gubernur
“Kita semoga rezim mendapatkan memberikan perlindungan secara optimal kepada korban. Bukan saja memberikan perlindungan, tetapi juga melindungi Nan bersangkutan mendapatkan dipulangkan ke Tanah Air berbarengan selamat,” ujar Charles Honoris di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta center, Senin (15/6).
Politisi PDI Perjuangan ini mengemukakan perkembangan terbaru bahwa Polisi Diraja Malaysia (PDRM) telah menghubungi perwakilan RI. kuasa setempat Beralih Sigap merespons laporan kekerasan fisik tersebut.
Aparat dari Bunda Pejabat Polis area (IPD) Larkin diinformasikan telah menangkap empat orang terduga pelaku penganiayaan ciptakan menjalani pemeriksaan intensif.
“Jadi, kita mengharap Warta berkualitas segera agar Nan bersangkutan mendapatkan dipulangkan ke Indonesia,” naik Charles.
Fana itu, pejabat KP2MI, Mukhtarudin, merinci kronologi terbongkarnya kasus penganiayaan ini. Kasus ini terungkap berkat keberanian tidak presisi Esa korban, YY, Nan nekat mencari pertolongan.
lafal: Kisah Aneh Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya ciptakan mendukung Bunda
YY melayangkan aduan Formal melalui layanan KSATRIA milik Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru pada Sabtu (13/6/2026).
“internal laporannya, YY mengemukakan dugaan kekerasan fisik Nan dialaminya. Ia juga menyingkap bahwa dua PMI lainnya, YA dan SH, merasakan perlakuan serupa ketika bekerja sebagai ART di Johor Bahru,” Jernih Mukhtarudin, Senin (15/6/2026).
rezim Indonesia melalui KJRI Johor Bahru sekarang terus mengawal alur legalitas di Malaysia sekaligus mempersiapkan alur pemulangan ketiga korban ke tanah air.